Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat terdampak bencana, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan sejak November hingga akhir Desember 2025 dan menjangkau sejumlah wilayah terdampak di Sumatera Utara dan Aceh, meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Langkat, Kota Medan, serta Kabupaten Aceh Tamiang.
Program ini dilaksanakan melalui kerja sama lintas sektor yang melibatkan organisasi profesi, TNI/Polri, serta pemerintah daerah setempat. Dalam pelaksanaannya, FK USU mengerahkan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu, terdiri atas dokter spesialis, dokter umum dan peserta PPDS, perawat, apoteker, psikolog, mahasiswa kedokteran, serta relawan pendukung. Dukungan logistik dan fasilitas dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi turut menunjang kelancaran operasional pelayanan kesehatan agar dapat menjangkau wilayah terdampak secara optimal dan merata.

Selama periode pelaksanaan, 15.797 warga terdampak bencana telah menerima pelayanan kesehatan dari Tim Medis FK USU. Layanan yang diberikan bersifat komprehensif, mencakup penanganan kegawatdaruratan dan trauma, penyakit infeksi dan sistemik, pelayanan kesehatan ibu dan anak, tatalaksana penyakit akut non-emergensi, kelanjutan pengobatan penyakit kronik yang terhenti, layanan rujukan, serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial. Untuk memperkuat koordinasi dan distribusi bantuan, FK USU mendirikan posko darurat di RSUD Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, serta di Kantor Bupati Aceh Tamiang.
Berdasarkan data pembaruan hingga 28 Desember 2025, FK USU telah memobilisasi 643 tenaga kesehatan dan pendukung secara bertahap sesuai kebutuhan lapangan. Jumlah tersebut terdiri atas 178 dokter spesialis, 317 dokter umum dan PPDS, 62 perawat, 5 bidan, 20 dokter koas, 10 apoteker, 17 psikolog, 14 tenaga pendukung, serta 20 relawan lainnya.
Dari sisi keilmuan, keterlibatan dokter spesialis berasal dari berbagai bidang prioritas dalam penanganan kebencanaan. Sebanyak 178 dokter spesialis tersebut mencakup Ilmu Kesehatan Anak (69), Penyakit Dalam (31), Patologi Anatomik (19), Bedah (10), Obstetri dan Ginekologi (10), serta Jantung dan Pembuluh Darah (8). Selain itu, turut terlibat spesialis dari bidang anestesiologi dan terapi intensif, kedokteran jiwa, orthopaedi dan traumatologi, dermatologi, radiologi, forensik, serta layanan kesehatan primer. Komposisi ini memungkinkan pelayanan diberikan secara menyeluruh, mulai dari fase akut hingga tahap pemulihan.
Secara operasional, FK USU mencatat 189 kali kegiatan pelayanan lapangan yang tersebar di berbagai wilayah. Rinciannya meliputi Aceh Tamiang sebanyak 79 kali, Tapanuli Tengah 41 kali, Tapanuli Selatan 32 kali, Kabupaten Langkat 25 kali, dan Kota Medan 12 kali. Di Aceh Tamiang, pelayanan menjangkau 10 kecamatan dengan frekuensi tertinggi di Kecamatan Karang Baru dan Rantau. Di Kabupaten Tapanuli Tengah, layanan dilaksanakan di 12 kecamatan dengan konsentrasi utama di Kecamatan Tukka, sementara di Tapanuli Selatan terfokus di Kecamatan Batang Toru. Adapun di Kabupaten Langkat dan Kota Medan, pelayanan diarahkan ke kecamatan padat penduduk yang terdampak banjir secara langsung.
Selain pelayanan medis, FK USU juga menyalurkan berbagai bantuan logistik, antara lain air bersih, kelambu, matras, selimut, pakaian layak pakai, serta sepatu boots guna menunjang kebutuhan dasar dan keselamatan masyarakat terdampak. Sebagai bagian dari strategi pemulihan jangka menengah, FK USU merencanakan pembangunan fasilitas air bersih melalui pendirian sumur bor di enam titik wilayah Aceh Tamiang, yakni RSUD Aceh Tamiang, Puskesmas Tamiang Hulu, Desa Gelung, Kotalintang Atas, Kampung Landu, dan Desa Rantau Bintang. Fasilitas tersebut diharapkan mampu menjamin ketersediaan air bersih secara berkelanjutan serta berkontribusi pada pencegahan penyakit pascabencana.
Koordinator Tim Medis FK USU, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDip PID., FAAET., M.Ked(Ped)., Sp.A., Ph.D, menyampaikan bahwa tingginya intensitas dan cakupan pelayanan tersebut mencerminkan pendekatan penanganan bencana yang berkelanjutan. Menurutnya, respons kebencanaan tidak dapat dilakukan secara sporadis, melainkan membutuhkan kehadiran tim medis yang konsisten dan mampu beradaptasi dengan dinamika kebutuhan di lapangan.
Melalui keterlibatan lintas disiplin dan skala pelayanan yang luas, FK USU menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan kedokteran yang hadir aktif dalam penanganan tanggap darurat bencana. Peran tersebut tidak hanya diwujudkan pada fase kedaruratan, tetapi juga melalui pendampingan berkelanjutan dalam proses pemulihan kesehatan fisik dan psikososial masyarakat di wilayah terdampak.