home icon
search icon
menu icon

> Berita > Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-73 FK USU: Imunisasi Kunci Mewujudkan Indonesia Sehat dan Kuat

Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-73 FK USU: Imunisasi Kunci Mewujudkan Indonesia Sehat dan Kuat

Dipublikasi Pada

03 September 2025

Dipublikasi Oleh

Khairul Azmi

Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-73 FK USU: Imunisasi Kunci Mewujudkan Indonesia Sehat dan Kuat
Thumbnail Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-73 FK USU: Imunisasi Kunci Mewujudkan Indonesia Sehat dan Kuat
“Ayo lengkapi imunisasi, generasi sehat menuju Indonesia Emas. Tidak ada alasan untuk menunda, tidak ada ruang bagi keraguan. Setiap tetes vaksin hari ini adalah benteng yang menjaga masa depan bangsa,” tegas dr. Prima Yosephine, M.K.M. saat menyampaikan orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-73 FK USU.

Medan – Fakultas Kesehatan USU menyelenggarakan peringatan Dies Natalis ke-73 dengan penuh khidmat pada Senin, 01 September 2025 di Aula Lt. 3 Fakultas Kedokteran. Dalam rangkaian acara tersebut, disampaikan orasi ilmiah bertajuk “Peran FK USU dalam Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sehat dan Kuat melalui Imunisasi” oleh dr. Prima Yosephine, M.K.M.

 

Dalam orasinya, disampaikan bahwa perayaan Dies Natalis bukan sekadar menandai usia lembaga, melainkan juga momentum refleksi atas kontribusi FK USU dalam membangun bangsa melalui kesehatan. Salah satu fokus utama yang diangkat adalah pentingnya imunisasi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.

 

“Setiap rupiah yang kita tanamkan dalam imunisasi akan kembali berkali-kali lipat, lebih besar dibanding investasi di banyak sektor pembangunan lainnya. Imunisasi bukan hanya urusan kesehatan, tetapi juga efisiensi, produktivitas, dan daya saing bangsa,” ujar dr. Prima.

 

Beliau juga menjelaskan bahwa imunisasi telah menjaga kesehatan lebih dari 700 juta anak di dunia dan menyelamatkan lebih dari 10 juta jiwa. Namun, tantangan di Indonesia masih cukup besar. Data menunjukkan capaian imunisasi rutin lengkap di Sumatera Utara baru mencapai 45,3%, imunisasi MR1 sebesar 51,3%, imunisasi baduta 33,3%, dan imunisasi antigen baru 27,6%. Kondisi ini berisiko terhadap keberlanjutan program eradikasi polio, eliminasi campak-rubela, serta eliminasi tetanus neonatorum.

 

”Selain itu, Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah zero dose children yang cukup tinggi. Pada tahun 2024 tercatat hampir 1 juta anak tidak mendapatkan dosis pertama DPT-HB-Hib. Hal ini menjadi peringatan serius agar target penurunan 25% pada tahun 2025 dan 50% pada 2030 sesuai Immunization Agenda 2030 dapat tercapai.” tambah beliau.

 

Tantangan imunisasi hadir dari dua sisi. Dari sisi pasokan, kendala meliputi belum optimalnya prioritas pemerintah daerah, rotasi tenaga kesehatan yang terlalu cepat, keterlambatan logistik vaksin, hingga perbedaan pencatatan dan pelaporan. Sementara dari sisi permintaan, tantangan yang lebih pelik adalah keraguan masyarakat akibat hoaks, kekhawatiran efek samping, serta isu halal-haram. Survei tahun 2025 juga mencatat bahwa banyak anak tidak mendapat imunisasi karena orang tua tidak tahu dosis belum lengkap, anak sedang sakit, atau vaksin yang tidak tersedia.

 

“Ayo lengkapi imunisasi, generasi sehat menuju Indonesia Emas. Tidak ada alasan untuk menunda, tidak ada ruang bagi keraguan. Setiap tetes vaksin hari ini adalah benteng yang menjaga masa depan bangsa,” tegasnya.

 

Berita