home icon
search icon
menu icon

> Berita > FK USU dan SDGHI Perkuat Sistem Kesehatan untuk Deteksi Dini Kanker Payudara di Medan, Sumatera Utara

FK USU dan SDGHI Perkuat Sistem Kesehatan untuk Deteksi Dini Kanker Payudara di Medan, Sumatera Utara

Dipublikasi Pada

10 Oktober 2025

Dipublikasi Oleh

Khairul Azmi

FK USU dan SDGHI Perkuat Sistem Kesehatan untuk Deteksi Dini Kanker Payudara di Medan, Sumatera Utara
Thumbnail FK USU dan SDGHI Perkuat Sistem Kesehatan untuk Deteksi Dini Kanker Payudara di Medan, Sumatera Utara
Kanker payudara merupakan penyakit kanker paling sering menyerang perempuan di Indonesia dan menjadi penyebab utama kematian akibat kanker. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, kanker payudara menyumbang 16,2% dari total kasus kanker baru di Indonesia pada tahun 2022, yaitu sejumlah 66.271 kasus dari total 408.661 kasus kanker baru di Indonesia. Angka ini menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker terbanyak di Indonesia pada tahun tersebut.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) bekerja sama dengan SingHealth Duke-NUS Global Health Institute (SDGHI) Singapura melaksanakan penelitian kolaboratif bertajuk “Strengthening Health Systems to Improve Early Breast Cancer Diagnosis in Medan, Sumatera Utara.”


Penelitian bersama ini dipimpin oleh dr. Ivana Alona, MPH, Sp.KKLP (FK USU) dan Prof. Tan Hiang Khoon MBBS FRCS(Ed) FAMS PhD (CEO Singapore General Hospital - SDGHI) dengan dukungan peneliti FK USU lainnya seperti Dr. dr. isti Ilmiati Fujiati, M.Sc, CM-FM, Prof. Dr. Dr. Dedy Hermansyah, Sp.B (K-Onk), dr. Denny Rifsal Siregar, Sp.B (K) Onk, dan dr. Endi Taris Pasaribu, M.Si., Sp.B (K- Onk), peneliti dari FISIP USU seperti Dr. Dra. Erni Asneli Asbi, M.Si, serta 2 peneliti lain dari SDGHI yaitu Kaisin Yee MPH dan Sarah Suprat M.Soc, Sci. USU menerima kunjungan dari tim SDGHI selama 3 hari dengan berbagai kegiatan yang meliputi kuliah tamu, Kunjungan ke Rumah Sakit, Puskesmas di Kota Medan, dan diskusi bersama dengan berbagai pemangku kebijakan, profesi, dan Ketua Penggerak PKK Provinsi Sumatera Utara.

 

Latar Belakang dan Urgensi

 

Kanker payudara merupakan penyakit kanker paling sering menyerang perempuan di Indonesia dan menjadi penyebab utama kematian akibat kanker. Berdasarkan data  

 

Global Cancer Observatory (Globocan) 2022,  kanker payudara menyumbang 16,2% dari total kasus kanker baru di Indonesia pada tahun 2022, yaitu sejumlah 66.271 kasus dari total 408.661 kasus kanker baru di Indonesia. Angka ini menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker terbanyak di Indonesia pada tahun tersebut.

 

Program deteksi dini melalui SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan klinis) telah dicanangkan sejak 2007 dan diperkuat dengan deklarasi nasional “Selamatkan Perempuan Indonesia dari Kanker” pada tahun 2008. Namun, cakupan pemeriksaan masih rendah — survei menunjukkan sekitar 90% perempuan belum pernah melakukan SADANIS dalam 3 tahun terakhir, sementara sebagian besar pasien datang dengan stadium lanjut (60–70%).

 

Sejalan dengan Permenkes No. 29 tahun 2017, Pengendalian kanker payudara dan leher rahim merupakan prioritas nasional, tetapi di lapangan masih terdapat berbagai kendala. Berdasarkan kajian sistematik yang dilakukan peneliti, kendala ini terjadi karena beberapa faktor : Psikologis dan rendahnya literasi kesehatan, sistem layanan kesehatan ang belum efisien, kondisi sosial ekonomi dan budaya. Kondisi ini melatarbelakangi riset kolaboratif FK USU–SDGHI untuk mengidentifikasi hambatan sistemik dan sosial, serta mengembangkan strategi berbasis komunitas agar diagnosis kanker payudara dapat dilakukan lebih awal dan merata di Medan.

 

Tujuan dan Pendekatan Penelitian

 

Penelitian ini berupaya menghadirkan solusi nyata terhadap keterlambatan diagnosis kanker payudara dengan memperkuat sistem kesehatan berbasis komunitas. Fokus utamanya adalah memvalidasi berbagai hambatan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh diagnosis dini, mulai dari keterbatasan akses, rendahnya pemahaman tentang gejala, hingga tantangan komunikasi antara pasien dan tenaga medis.

 

Melalui pendekatan partisipatif, tim peneliti menggandeng berbagai pemangku kepentingan — mulai dari dokter, tenaga kesehatan primer, pembuat kebijakan, organisasi masyarakat, hingga kader perempuan — untuk merumuskan strategi yang kontekstual dan dapat diterapkan di lapangan.

 

Penelitian ini dilaksanakan selama 18 bulan dan dibagi dalam tiga tahap:

  • Tahap pertama dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, berupa focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan pasien, tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat guna memahami hambatan nyata yang dialami di lapangan.

  • Tahap kedua adalah perumusan strategi dan rancangan intervensi, di mana seluruh hasil temuan lapangan disusun menjadi rekomendasi yang aplikatif melalui lokakarya kolaboratif. Dalam tahap ini, para pemangku kepentingan bekerja bersama untuk merancang intervensi seperti peningkatan literasi kesehatan masyarakat, pelatihan komunikasi dokter-pasien, serta perbaikan mekanisme rujukan berbasis digital.

  • Tahap ketiga merupakan uji coba penerapan (pilot implementation)  Uji coba ini akan menilai efektivitas strategi yang dikembangkan — termasuk pelatihan kader, peningkatan pelayanan pemeriksaan klinis, dan sistem pelacakan pasien berbasis teknologi — untuk melihat sejauh mana pendekatan tersebut mampu mempercepat diagnosis dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Audiensi dengan Ketua TP PKK Sumatera Utara

 

Sebagai bagian dari kegiatan penelitian, tim yang terdiri atas dr. Ivana Alona, MPH, Sp.KKLP (ketua peneliti, FK USU)Kaisin Yee dan Nursarah Suprat (SDGHI), Prof. Dr. dr. Arlinda Sari Wahyuni M.Kes, FISPH, FISCM, Sp.KKLP (Ketua Departemen IKK/IKM/IKP FK USU), dr. Putri C. Eyanoer, Ms. Epi Ph.D, FISPH, FISCM, Sp.KKLP (Ketua Program Studi Sp.KKLP)  Dr. Dra. Erni Asneli Asbi, M.Si (FISIP USU) dan dr. Fernando Silalahi, Sp.B, (K-Onk) (PERABOI) melakukan audiensi dengan Ketua TP PKK Sumatera Utara, Ibu Kahiyang Ayu yang juga dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, H. Muhammad Faisal Hasrimy, A.P., M.A.P. beserta jajarannya.

 

Dalam pertemuan tersebut, Ibu Kahiyang menekankan pentingnya peran PKK sebagai penggerak wanita di akar rumput untuk meningkatkan kesadaran deteksi dini kanker payudara.


Beliau juga menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan seminar dan pelatihan kader deteksi dini setiap 3–6 bulan agar kompetensi kader PKK tetap terjaga dan berkelanjutan. Dukungan PKK diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi SADARI dan SADANIS hingga ke komunitas terkecil, serta memperkuat jejaring rujukan dari masyarakat ke fasilitas kesehatan. Sebagai tambahan, lokasi jangkauan pelaksanaan juga dapat dilakukan di berbagai daerah lain di Sumatera Utara seperti Binjai, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai, tambahnya.

 

Diskusi dengan RS Adam Malik, Dinas Kesehatan Kota Medan dan PERABOI

 

Tim peneliti juga melakukan diskusi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai hambatan yang selama ini dihadapi dalam meningkatkan deteksi dini kanker payudara dari berbagai aspek termasuk psikologi, sosial, dan system kesehatan yang berlaku saat ini. Menurut Prof Dr dr Kamal Basri Siregar, SpB(K)Onk, FICS, MHKes, 


Di RSUP Adam Malik, 70% pasien datang pada stadium lanjut. Hambatan utama: keterlambatan rujukan berjenjang (Puskesmas–RS tipe B/C–RS tipe A), keterbatasan BPJS dalam menanggung skrining dini, kurangnya pelatihan dan empati tenaga medis, serta rendahnya kesadaran SADARI/SADANIS. Dalam diskusi tim menekankan perlunya perbaikan kebijakan rujukan, insentif finansial, serta pelatihan komunikasi dokter. Integrasi sistem digital (iCare, ASIK) dan pemanfaatan registri kanker Adam Malik dapat dimanfaatkan untuk analisis spasial dan kebijakan berbasis data.

 

Selanjutnya, Dinkes yang diwakilkan oleh dr. Pocut Fatimah Fitri, MARS, menggarisbawahi bahwa meski kampanye SADARI telah dilakukan sejak 2023, perubahan perilaku masyarakat masih minim akibat ketakutan terhadap pengobatan dan ketidakpercayaan pada dokter. Ditekankan pentingnya edukasi langsung oleh kader dan dokter dengan empati. DHO menilai hanya 10% perempuan mengenal SADARI, dan capaian 50% sudah dianggap sukses. Pelatihan berkala bagi kader dan dokter, serta insentif kecil sangat diharapkan untuk menjaga motivasi.

 

Diskusi dengan Peraboi dan Program Studi Subspesialis Onkologi Fk USU melalui Prof. Dr. Dr. Dedy Hermansyah, Sp.B (K-Onk) dan dr. Endi Taris Pasaribu, M.Si., Sp.B (K- Onk) menekankan adanya peran yang diambil USU sebagai badan yang dapat melakukan koordinasi edukasi, riset, dan tata kelola, serta uji coba sistem kebijakan kesehatan yang dilakukan secara terpadu, seperti “Breast Cancer research Board”. Rencana pembentukan badan ini meliputi kajian terkait layanan kanker payudara dimana sejalan dengan keunggulan FK USU dalam bidang onkologi. Selain itu dibutuhkan pelatihan SADARI/SADANIS, integrasi data komunitas–Puskesmas–RS, serta Kedua diskusi menegaskan bahwa keberhasilan skrining dini menuntut reformasi kebijakan, pelibatan komunitas, dan perubahan paradigma dokter dari sekadar pelaksana menjadi pendamping pasien.

 

Menuju Sistem Kesehatan yang Responsif dan Inklusif

 

Pertemuan ini menjadi tonggak sinergi antara akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat, dan tenaga kesehatan dalam memperkuat sistem deteksi dini berbasis komunitas.
Tahap selanjutnya akan dilakukan pilot implementasi di Kota Medan yang melibatkan kader PKK, tenaga kesehatan, dan sistem rujukan digital. Hasilnya diharapkan menjadi model nasional yang dapat direplikasi di daerah dan provinsi lain.

 

Seperti disampaikan oleh dr. Ivana Alona, “Deteksi dini bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga sosial dan sistemik. Hanya dengan kolaborasi lintas sektor kita dapat menyelamatkan lebih banyak perempuan dari kanker payudara.”

 

Berita tentang audiensi ini juga telah dimuat oleh portal resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara:
👉 PKK Sumut Siap Kolaborasi dengan Berbagai Pihak Tangani Kanker Payudara

Berita