Dalam upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai keterkaitan ilmu fisika dengan perkembangan teknologi kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) menyelenggarakan kuliah tamu bertema “MRI sebagai Aplikasi Fisika Kuantum dalam Radiodiagnostik”. Kegiatan yang berlangsung di Aula RSP Prof. dr. Chairuddin P. Lubis USU tersebut menghadirkan Dr. rer. nat. Freddy Haryanto, S.Si., M.Si. sebagai pemateri pada Jumat, 26 September 2025, di aula RSP Prof. dr. Chairuddin P. Lubis USU.
Kuliah tamu ini menjadi bagian dari kegiatan akademik yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai penerapan konsep-konsep fisika dalam teknologi kedokteran. Melalui penyampaian materi oleh narasumber yang memiliki kompetensi di bidang fisika medis dan teknologi pencitraan medis, mahasiswa diajak memahami hubungan antara teori fisika fundamental dengan teknologi yang digunakan dalam pelayanan kesehatan modern.

Dalam pemaparannya, Dr. rer. nat. Freddy Haryanto menjelaskan bahwa Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan salah satu teknologi pencitraan medis yang memanfaatkan prinsip-prinsip fisika, khususnya fenomena yang berkaitan dengan spin inti atom, resonansi magnetik nuklir, medan magnet, dan gelombang radio. Berbeda dengan pemeriksaan menggunakan sinar-X atau CT scan, MRI tidak menggunakan radiasi pengion dalam menghasilkan citra struktur tubuh.
Pembahasan kemudian diarahkan pada keterkaitan teknologi MRI dengan konsep fisika kuantum. Pada tingkat mikroskopis, inti atom tertentu, terutama atom hidrogen yang banyak terdapat dalam tubuh manusia, memiliki sifat spin dan momentum magnetik. Ketika tubuh ditempatkan dalam medan magnet yang kuat, sebagian spin inti mengalami orientasi tertentu. Pemberian gelombang radio pada frekuensi yang sesuai dapat menyebabkan resonansi, sementara sinyal yang dihasilkan kemudian ditangkap oleh sistem MRI dan diproses menggunakan komputer hingga menghasilkan gambaran organ dan jaringan tubuh.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada sejumlah konsep penting dalam teknologi MRI, antara lain medan magnet utama, frekuensi Larmor, eksitasi menggunakan pulsa radiofrekuensi (RF), relaksasi T1 dan T2, serta proses pembentukan dan rekonstruksi citra. Pemahaman terhadap konsep tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana perbedaan karakteristik jaringan dapat diterjemahkan menjadi informasi visual yang membantu proses diagnostik.
Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada prinsip kerja MRI, tetapi juga memperlihatkan bagaimana fenomena pada skala atom dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi diagnostik pada skala makroskopis. Hal tersebut menunjukkan keterkaitan antara fisika dasar, fisika kuantum, teknologi instrumentasi, dan ilmu kedokteran dalam pengembangan teknologi kesehatan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan serta mendiskusikan berbagai aspek penerapan fisika dalam teknologi radiodiagnostik. Interaksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan konsep yang dipelajari secara teoretis dengan penerapannya dalam teknologi medis yang digunakan di dunia nyata.
Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education melalui penguatan proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa. Paparan terhadap materi lintas disiplin memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta memahami hubungan antara ilmu dasar dan penerapannya dalam bidang kesehatan. Pembelajaran semacam ini menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain aspek pendidikan, pembahasan mengenai MRI juga berkaitan dengan SDGs 9: Industry, Innovation and Infrastructure. Teknologi pencitraan medis merupakan salah satu bentuk pemanfaatan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pelayanan kesehatan. Pemahaman mahasiswa terhadap prinsip ilmiah dan perkembangan teknologi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan terhadap inovasi di bidang kesehatan serta membuka wawasan mengenai peran teknologi dalam meningkatkan kemampuan diagnostik.
Melalui kuliah tamu “MRI sebagai Aplikasi Fisika Kuantum dalam Radiodiagnostik”, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengenal MRI sebagai alat diagnostik, tetapi juga memahami proses ilmiah yang mendasari pengembangan dan penggunaannya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal untuk memahami perkembangan teknologi pencitraan medis sekaligus memperluas perspektif mahasiswa mengenai penerapan ilmu fisika dalam bidang kedokteran.
Kehadiran Dr. rer. nat. Freddy Haryanto, S.Si., M.Si., memberikan perspektif akademik yang memperkaya proses pembelajaran mahasiswa, khususnya dalam memahami bagaimana konsep fisika pada tingkat fundamental dapat berkembang menjadi teknologi yang memberikan manfaat bagi bidang kesehatan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengeksplorasi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang mendukung pelayanan kesehatan modern.