Singapura, 22 Januari 2025 – Tiga tim inovatif yang terdiri atas peserta dari Indonesia, Malaysia, Mongolia, dan Thailand berhasil meraih tiga penghargaan pada Asia-Pacific Global Health Innovation Hackathon 2025, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Singapura pada 17–18 Januari 2025.
Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan perdana dari inisiatif yang diselenggarakan oleh Office of International Collaboration di bawah SingHealth Duke-NUS Academic Medical Centre, bersama SingHealth Duke-NUS Academic Medicine Innovation Institute dan SingHealth Duke-NUS Global Health Institute. Hackathon tersebut mempertemukan 16 tim dinamis dari 13 negara/pasar di kawasan Asia-Pasifik untuk mengembangkan solusi inovatif terhadap berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
Mengusung fokus pada keterkaitan antara tantangan kesehatan dan perubahan iklim, kegiatan ini mendorong lahirnya solusi yang transformatif, terukur, dan dapat memberikan dampak nyata terhadap berbagai permasalahan kesehatan mendesak di kawasan Asia-Pasifik. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 3: Good Health and Well-being, melalui pengembangan inovasi yang mendukung peningkatan kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, serta perlindungan populasi dari berbagai risiko kesehatan.
Salah satu tim yang berpartisipasi adalah RodentWatch, tim asal Indonesia yang dipimpin oleh dr. Sunna Vyatra Hutagalung, M.S., Ph.D. dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Tim RodentWatch mempresentasikan sebuah platform inovatif yang menyediakan data pengawasan secara real-time serta menghasilkan pemetaan risiko untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan populasi hewan pengerat dan penyakit yang berkaitan dengannya.
Platform tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan informasi publik yang lebih terarah sekaligus mendukung pengambilan keputusan dan intervensi yang tepat dalam melindungi masyarakat. Inovasi RodentWatch juga memiliki keterkaitan erat dengan SDG 13: Climate Action, mengingat perubahan iklim dapat memengaruhi ekosistem, distribusi vektor dan hewan pembawa penyakit, serta meningkatkan berbagai risiko kesehatan masyarakat. Pemanfaatan teknologi berbasis data menjadi salah satu pendekatan penting untuk memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap dampak kesehatan yang berkaitan dengan perubahan lingkungan.
Hackathon pertama di kawasan Asia-Pasifik ini terlaksana berkat dukungan dari The Moh Family Foundation. Selain menjadi wadah kompetisi dan pengembangan ide, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam membangun jejaring regional para inovator di bidang inovasi kesehatan dan iklim.
Kolaborasi lintas negara yang terbangun melalui kegiatan ini turut mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals, khususnya melalui penguatan kemitraan internasional, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi inovasi untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Jejaring tersebut diharapkan dapat terus berkembang untuk mengadvokasi kebutuhan mendesak akan solusi inovatif yang mampu memitigasi dan mengelola dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat di kawasan Asia-Pasifik.
