Program Studi Spesialis-1 Bedah Saraf Universitas Sumatera Utara (USU) adalah program studi yang mempelajari keterampilan medis khusus yang berfokus pada pengajaran bedah saraf dengan metode pembelajaran analitis sistematis dan evidence-based medicine sehingga memberikan pendidikan ilmu bedah saraf secara mendasar dan komprehensif yang dapat menunjang pendidikan berkelanjutan.
Program Studi Spesialis-1 Bedah Saraf USU mencakup sekelompok individu terbaik yang berkomitmen tinggi menghasilkan calon ahli bedah saraf atau neurosurgeon yang terampil dalam menyelesaikan masalah bedah saraf dan memberikan tindakan penyuluhan dalam bidang preventif, kuratif, dan rehabilitatif, serta mempunyai integritas sesuai dengan Pancasila dan kode etik ilmu ataupun etik profesi. Dokter yang sudah menyelesaikan program studi ini akan menyandang gelar Spesialis Bedah Saraf (Sp.B.S.).
Sejarah
1983
Pada tahun 1983, untuk mengisi kekosongan ahli bedah saraf di Medan, maka atas permintaan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (yang pada waktu itu adalah Prof. Dr. Bachtiar Fanany Lubis) kepada kepala bagian Bedah Saraf FK Unpad, dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat yang pada saat itu baru menyelesaikan pendidikan sebagai ahli bedah saraf di FK Unpad, dipindahkan ke Medan menjadi ahli bedah saraf dibagian Ilmu Bedah FK USU pada bulan September 1983. Dengan adanya dokter ahli bedah saraf, maka pada tahun 1984 atas prakarsa kepala bagian Bedah FK USU, Prof. dr. Buchari Kasim, ahli bedah plastik, dibentuklah subbagian Bedah Saraf yang bernaung di bawah Bagian Ilmu Bedah FK USU.
1985
Selanjutnya, pada tahun 1985 melalui SK Gubernur Sumatera Utara, Kaharudin Nasution, dibentuk pula Unit Pelayanan Bedah Saraf Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan, di mana dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat diangkat menjadi kepala unit. Ini merupakan peristiwa bersejarah di mana Bedah Saraf mendapat wadah ‘institusional’ baik di FK USU maupun di rumah sakit pendidikan, RS Dr. Pirngadi.
1986
Pada tahun 1986, datang dr. Iskandar Japardi, Sp.B.S., lulusan Universitas Padjajaran, Bandung, dan dr. Adril Arsjad Hakim, Sp.S., Sp.B.S., lulusan Universitas Airlangga, Surabaya.
1991
Pada tahun 1991, pembangunan Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik rampung dan diresmikan sebagai ‘rumah sakit pendidikan’, sedangkan RS Dr. Pirngadi menjadi ‘rumah sakit tempat pendidikan’. Sebagai Kepala SMF Bedah Saraf RSUP H. Adam Malik ditunjuk dr. Adril Arsyad Hakim, Sp.S., Sp.B.S.; sedangkan dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat, Sp.B.S. dan dr. Iskandar Japardi, Sp.B.S. tetap di RS Dr. Pirngadi.
1995
Pada tahun 1995, dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat, Sp.B.S. pindah ke RSUP H. Adam Malik sebagai Kepala Divisi Bedah Saraf yang berada di bawah Departemen Ilmu Bedah FK USU, sedangkan Prof. Dr. Iskandar Japardi, Sp.B.S. diangkat sebagai Kepala SMF Bedah Saraf RS Dr. Pirngadi.
2004
Kualitas dan kemampuan pelayanan di RSUP H. Adam Malik sejalan dengan perjalanan waktu juga tambah meningkat. Pada awal tahun 2004, RSUP H. Adam Malik tercatat sebagai rumah sakit paling banyak menangani kasus-kasus trauma kepala, kemungkinan mencapai 80% dari kasus-kasus trauma kepala yang terjadi di Medan dan sekitarnya. Kasus lainnya tercatat beberapa kasus bedah mikro untuk tumor otak dan tumor-tumor medula spinalis.
2005
Kemudian, pada tahun 2005, Prof. Dr. dr. Iskandar Japardi, Sp.B.S. bergabung di Divisi Bedah saraf Departemen Ilmu Bedah FK USU/RSUP H. Adam Malik; sebagai kepala SMF bedah Saraf RS Dr. Pirngadi ditunjuk dr. Rezeki Sembiring, Sp.B.S., yang kemudian diangkat menjadi staf pengajar luar biasa pada Divisi Bedah Saraf Departemen Ilmu Bedah FK USU/RSUP H. Adam Malik.
2006
Dengan adanya empat spesialis bedah saraf di dalam institusi bedah saraf FK USU, juga sudah tersedia lahan pendidikan dengan kasus yang cukup bervariasi. Sementara itu, di rumah sakit tentara, RS Putri Hijau, juga ada seorang spesialis bedah saraf, dr. Bayu, Sp.B.S.; timbul pikiran untuk mendirikan sentra pendidikan bedah saraf di FK USU. Dengan dukungan moral yang sangat kuat dari Rektor Universitas Sumatera Utara waktu itu, Prof. dr. Chaeruddin P. Lubis, DTMH, Sp.A(K), dan Dekan Fakultas Kedokteran USU, Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp.PD-KGEH, maka pada pertengahan 2006 dibuatlah proposal pendirian IPDS Bedah Saraf FK USU.
Berbeda dengan ketiga institusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) Bedah Saraf yang telah ada di FK UI, FK UNPAD, dan FK Unair; IPDS Bedah Saraf USU lahir dalam era setelah diundangkanya undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2005, di mana persyaratan pendirian suatu institusi pendidikan telah diatur melalui peraturan konsil kedokteran Indonesia maupun peraturan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional yang cukup rinci, mencakup antara lain persayaratan jumlah SDM, sarana dan prasarana pendidikan, jumlah kasus, dan keberadaan bidang ilmu-ilmu penunjang, maka dibutuhkan waktu yang cukkup lama untuk melakukan penyempurnaan proposal bersamaan dengan persiapan fisik sarana dan prasana.
Dalam mempersiapkan fisik sarana pendidikan, tidaklah dapat dilupakan jasa Dr. dr. Iskandar Japardi, Sp.B.S. yang dengan gigih melakukan pendekatan pada pimpinan RSUP H. Adam Malik sehingga berhasil mendapatkan lokasi kantor dan ruang rawat. Ruang perkantoran terdiri dari ruang administrasi, ruang pertemuan, dan ruang kuliah, ruang kepala departemen dan ruang KPS. Ruangan Perkantoran dilengkapi dengan wallpaper, AC, komputer di tiap ruangan kerja dan kamar jaga, LCD Projector, koneksi internet, dan perabotan, seperti meja, kursi, dan lemari buku. Persiapan ini sebagai besar dibiayai secara pribadi.
Buku-buku ajar bedah saraf untuk mengisi Perpustakaan Bedah Saraf juga diadakan melalui berbagai cara. Ada yang menyumbangkan milik pribadinya, ada yang membeli buku dengan uang kantong pribadi, dan ada yang di-download dari internet. Di samping itu, dikembangkan pula konsep kerja sama dengan disiplin-disiplin ilmu lain, terutama dengan Departemen Penyakit Saraf, Departemen Radiologi, dan Departemen Patologi Anatomik.
2007
Sementara persiapan terus berproses, pada tahun 2007, datang spesialis bedah saraf yang baru lulus secara berturut-turut, dr. Ridha Dharmajaya, Sp.B.S., lulusan Universitas Indonesia, dr. Suzy Indharty, M.Kes., Sp.B.S., lulusan Universitas Padjajaran, dan dr. Mahyudanil, Sp.B.S., lulusan Universitas Airlangga.
2008
Pada Agustus 2008, datang tim ‘visitasi’ yang terdiri dari Prof. dr. Biran Affandi, Sp.O.G., ketua Majelis Kolegiun Kedokteran Indonesia, Prof. Dr. R. M. Padmosantjojo, Sp.B.S., ketua kolegium Bedah Saraf Indonesia dan dr. Setyo Widi Nugroho, Sp.B.S., anggota Kolegium Bedah Saraf Indonesia. Hasil visitasi adalah keluarnya surat kepada Konsil Kedokteran Indonesia dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI yang isinya merekomendasikan pembukaan Program Studi Dokter Spesialis Bedah Saraf pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Pada bulan November 2008, Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional memberikan izin pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Inilah sentra pendidikan bedah saraf yang ke-empat di Indonesia dan merupakan sentra pendidikan bedah saraf pertama yang berada di luar Jawa.
Pada tanggal 3 Desember 2008, berdasarkan SK Rektor USU No. 2115/H5.1.R/SK/SDM/2008 ditetapkan struktural organisasi Departemen Bedah Saraf FK USU sebagai berikut:
1. Prof. Dr. dr. Iskandar Japardi, Sp.B.S(K) - Ketua Departemen/Pendidik
2. Prof. Dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat - Ketua Program Studi
3. Prof. Dr. Adril Arsjad Hakim, Sp.S., Sp.B.S(K) - Pendidik
4. Dr. Rezeki Sembiring, Sp.B.S. - Pembimbing
5. Dr. Ridha Dharmajaya, Sp.B.S. - Pembimbing
6. Dr. Rr. Suzy Indharty, M.Kes., Sp.B.S. - Sekretaris Departemen/Pembimbing
7. Dr. Mahyudanil, Sp.B.S. - Sekretaris Departemen/Pembimbing
8. Dr. M. Ihsan Z. Tala, Sp.B.S. - Pembimbing
Seluruh program pendidikan dasar dan pendidikan kompetensi bedah mengikuti seluruh petunjuk pada buku panduan pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf yang dikeluarkan oleh Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai ‘Bapak Angkat’. Di samping itu, seluruh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mengikuti perkuliahan pendidikan Magister Ilmu Bedah yang telah berdiri di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2008. Pada akhir pendidikan kompetensi bedah saraf, lulusan PPDS Bedah Saraf FK USU akan menyandang double degree sebagai Magister Ilmu Bedah (M.B.) dan sebagai Spesialis Bedah Saraf (Sp.B.S.).
Sekarang
Saat ini, Departemen Bedah Saraf FK USU dipimpin oleh Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp.B.S. selaku Ketua Departemen sekaligus Ketua SMF Bedah Saraf FK USU. Jumlah staf pendidik berjumlah 12 orang, dengan jumlah peserta PPDS sebanyak 17 orang.
Bedah Saraf saat ini menganut sistem divisi untuk memudahkan penanganan dan manajemen pasien yang lebih efisien dan optimal. Adapun pembagian sistem divisi Bedah Saraf USU adalah:
1. Divisi Onkologi
2. Divisi Trauma
3. Divisi Vaskular
4. Divisi Pediatrik
5. Divisi Spine
Bedah Saraf USU mulai tahun 2008 sampai tahun 2018, selama 10 tahun berdiri, telah menghasilkan 15 spesialis bedah saraf yang sekarang tersebar di luar Kota Medan, seperti di Pekanbaru, Jakarta, dan Kalimantan.
Tamatan/lulusan Depatemen Bedah Saraf FK USU secara rutin memberikan kontribusi dan sumbangan berupa partisipasi dalam berbagai kegiatan dan acara, seperti family gathering, seminar, dan simposium yang diadakan oleh Departemen Bedah Saraf FK USU. Perkumpulan Dokter Spesialis Bedah Saraf tamatan FK USU dan PPDS Bedah Saraf FK USU membentuk suatu grup dengan nama Green Brain untuk menjalin silaturahmi dan sebagai sarana berbagi ilmu serta pengalaman.
Visi & Misi
Visi
remove
Menghasilkan lulusan yang memilki keunggulan neuroonkologi serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bedah saraf global pada tahun 2020.
Misi
remove
Menyelenggarakan pendidikan Spesialis Bedah Saraf yang mengacu pada standar Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) khususnya kompetensi unggulan di bidang neuroonkologi untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam pengetahuan, keterampilan, moral dan etika.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian khususnya dalam bidang neuroonkologi untuk menunjang kompetensi keilmuan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan layanan unggulan di bidang neuroonkologi kepada masyarakat dalam bentuk preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif.
Mewujudkan pengelolaan institusi bedah saraf yang mandiri, modern dan profesional serta mampu mengembangkan kerjasama institusi dalam lingkup dalam maupun luar negeri khususnya di bidang neuroonkologi.
Tujuan & Sasaran
Tujuan
remove
Mendidik dan melatih dokter menjadi dokter spesialis bedah saraf yang memilki kemampuan akademik berstandar global, keahlian klinis profesional dan keunggulan bidang neuroonkologi.
Mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan Ilmu Bedah Saraf sesuai dengan kebijakan pemerintah berdasarkan standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Mempunyai pengetahuan yang luas serta mempunyai keterampilan dan sikap yang baik sehingga mampu memahami dan memecahkan masalah Ilmu Bedah Saraf secara ilmiah dan dapat mengamalkan Ilmu Bedah Saraf kepada masyarakat secara paripurna.
Mampu menentukan, merencanakan dan melaksanakan pendidikan, penelitian secara mandiri serta mengembangkan ilmu ke tingkat akademik yang lebih tinggi.
Mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi masalah bedah saraf darurat dan elektif terutama untuk kasus terbanyak yang terdapat di Indonesia.
Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan etik profesi.
Mampu melakukan pelayanan bedah saraf sesuai dengan standar pelayanan medik bedah saraf di Indonesia.
Menjunjung tinggi kode etik kedokteran Indonesia.
Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sebagai spesialis yang ahli dalam Ilmu Bedah Saraf sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kondisi masyarakat.
Mampu mengembangkan pelayanan Ilmu Bedah Saraf di lingkungannya.
Memiliki pengetahuan yang cukup tentang rehabilitasi cacat tubuh dan mampu melaksanakan rehabilitasi preventif.
Mampu mengembangkan pengalaman belajar sebagai bentuk long life learning yang dapat menjurus pada kemampuan akademik tertinggi.