> Berita > ADVANCE-ID LAUNCH SYMPOSIUM: Para Ahli Bertemu untuk Mendiskusikan Riset dan Strategi Terbaru Melawan Resistensi Antimikroba di Asia
ADVANCE-ID LAUNCH SYMPOSIUM: Para Ahli Bertemu untuk Mendiskusikan Riset dan Strategi Terbaru Melawan Resistensi Antimikroba di Asia
Dipublikasi Pada
03 Maret 2023
Dipublikasi Oleh
Christoffel Daniel Yesaya Tambunan
Thumbnail ADVANCE-ID LAUNCH SYMPOSIUM: Para Ahli Bertemu untuk Mendiskusikan Riset dan Strategi Terbaru Melawan Resistensi Antimikroba di Asia
ADVANCE-ID (ADVANCing Clinical Evidence in Infectious Diseases Network) Launch Symposium merupakan acara pertemuan dengan tujuan mendiskusikan topik AMR (antimicrobial resistance atau resistensi antibiotika) pada penyakit infeksius berdasarkan gejala klinis yang terjadi. AMR pada tahun 2050 diproyeksi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi dunia kesehatan, dan sering disebut sebagai ‘silent pandemic”. Prof David Paterson dari NUS Saw Swee Hock School of Public Health menyampaikan “Saat carbapenems (re: antibiotik golongan betalaktam) tidak lagi bisa bekerja untuk melawan kuman yang kebal antibiotik, kita berada di situasi yang serius”.
Pertemuan yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Februari 2023 di NUSS Kent Ridge Guilt House Singapore, dibuka oleh Dr. Mo Yin sebagai peneliti dari ADVANCE-ID Singapore lalu diikuti kata sambutan oleh Prof. Kenneth Mak, sebagai Direktur Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Singapore. Dr. Timothy Jinks dari Wellcome Trust UK juga memberikan kata sambutan dan mengutarakan komitmen Wellcome Trust untuk mendukung kerjasama penelitian yang berfokus pada komunitas yang paling berisiko akibat penyakit infeksius.
Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran USU, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A, Ph.D., juga diundang sebagai keynote speaker untuk membagikan informasi terkait “The Impact of Infectious Diseases in LMICs in Asia”. Sebagai perwakilan dari Universitas Sumatera Utara, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A, Ph.D., memaparkan bagaimana penyakit infeksi seperti HIV, tuberkulosis dan malaria berdampak pada negara-negara berpendapatan rendah atau Low-Middle Income Countries di Asia. Negara-negara Asia yang tergolong LMICs rentan dengan penyakit infeksius dikarenakan masih rendahnya sistem kesehatan, kurangnya kebersihan dan nutrisi yang berhubungan erat akibat faktor kemiskinan.
Pertemuan ini juga diisi oleh pembicara dari negara-negara seperti Israel, Philippines, Italy, Australia, Thailand, Malaysia, Singapore, Cambodia, Mongolia, Vietnam, Nepal, India dan Bangladesh dan dihadiri setidaknya 120 partisipan dari 30 negara di Asia. Pada hari kedua pembicara dari Indonesia dr. Hendri Wijaya, M.Ked(Ped), Sp.A memaparkan informasi terkait “Infectious Diseases Priorities in My Country”. Permasalahan penyakit infeksi yang menjadi prioritas di Indonesia adalah masih tingginya kasus Tuberculosis, HIV/AIDS dan Malaria. Program-program yang dilakukan terkait penyakit infeksi di Indonesia adalah membebaskan Indonesia dari neglected tropical disease (NTDs), menjalankan one health zoonotic disease prioritization program (OHZDP), meningkatkan sistem pengawasan nasional terkait penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan program vaksinasi (vaccine-preventable diseases) dan yang terakhir adalah tantangan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan di Indonesia, dimana tenaga kesehatan khususnya dokter masih belum mencukupi kebutuhan nasional.
Hari terakhir ADVANCE-ID launch symposium, peserta diberikan kesempatan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan di Singapore seperti NUH (National University Hospital) dan NCID (National Centre for Infectious Diseases). Kegiatan yang dilakukan di NUH adalah mengunjugi bangsal utama, ICU, penjelasan mengenai mikrobiologi, kontrol infeksi ASP dan epidemiologi dan diakhiri kunjungan ke laboratorium penyakit infeksius TRP NUS. Sedangkan kegiatan saat kunjungan ke NCID adalah penjelasan mengenai fasilitas dan fungsi NCID, mengunjungi kamar NCID High Level Isolation Unit (HLIU) dan Negative Pressure (NEP).