Fakultas Kedokteran USU terus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya manajemen komunikasi krisis di lingkungan perguruan tinggi. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Bimbingan Teknis Manajemen Komunikasi Krisis di Perguruan Tinggi yang dilaksanakan di Ruang Senat Akademik Lantai 3 Gedung Biro Rektor USU pada Kamis, 6 Agustus 2026. Narasumber pada kegiatan ini adalah Asmono Wikan, S.Sos., M.I.Kom., Founder dan CEO PR INDONESIA Group sekaligus praktisi media, public relations, dan komunikasi, sebagai pemateri.

Dalam pemaparannya, Asmono menjelaskan perbedaan antara isu, risiko, dan krisis yang perlu dipahami oleh institusi perguruan tinggi. Isu merupakan sesuatu yang sedang berkembang dan berpotensi memengaruhi organisasi, sementara risiko merupakan kemungkinan terjadinya kerugian yang perlu diantisipasi dan dimitigasi. Adapun krisis merupakan peristiwa yang telah terjadi dan menimbulkan dampak serius sehingga membutuhkan respons cepat. Karena itu, pengelolaan isu secara tepat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dan mencegah suatu persoalan berkembang menjadi krisis yang dapat memengaruhi reputasi serta kepercayaan publik terhadap institusi.
Materi juga menyoroti perubahan lanskap komunikasi di era digital yang menuntut perguruan tinggi merespons informasi secara lebih cepat. Perkembangan media sosial menjadikan mahasiswa dan alumni dapat berperan sebagai opinion leader, sementara opini publik sering terbentuk sebelum proses investigasi selesai. Kondisi tersebut membuat konsep golden hour dalam penanganan krisis semakin menyempit menjadi golden minutes.
Penguatan tata kelola komunikasi krisis sejalan dengan SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions, khususnya dalam mendorong institusi yang efektif, akuntabel, dan responsif. Dalam menghadapi krisis, materi menekankan pentingnya pengakuan cepat, mengedepankan empati sebelum prosedur, audit atau investigasi yang kredibel, reformasi sistemik, serta membangun narasi baru.
Selain tata kelola, komunikasi krisis membutuhkan sinergi antara pimpinan, humas, sivitas akademika, dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut sejalan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kemitraan dalam mencapai tujuan bersama.