Senin, 21 Juli 2025, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) secara resmi membuka kegiatan International Summer Course 2025 bertajuk “Bridging Global Health Gaps: Stronger Systems, Healthier Lives” di Medan dan Samosir. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara FK USU dan SingHealth Duke-NUS Global Health Institute (SDGHI). Kegiatan ini sejalan dengan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama internasional di bidang kesehatan.
Jumlah peserta yang mendaftar pada kegiatan ini sebanyak 165 orang dari beberapa negara. Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari luar negeri, Kementerian Republik Indonesia, dan Universitas Sumatera Utara. International Summer Course ini diharapkan menjadi langkah strategis FK USU dalam memperluas jejaring internasional dan memperkuat kontribusi aktif dalam mengatasi ketimpangan sistem kesehatan global.
Pada masa kini, dunia dihadapkan pada permasalahan kesehatan yang semakin kompleks. Tantangan tersebut mencakup ketimpangan akses layanan kesehatan, distribusi sumber daya yang tidak merata, hingga minimnya kesiapan dalam menghadapi krisis global seperti pandemi. Oleh karena itu, tema International Summer Course tahun ini dinilai sangat relevan dalam menghubungkan tantangan kesehatan global dengan solusi yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya mengurangi ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan.
Dalam sambutannya, Dekan FK USU, Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), menyampaikan apresiasi atas partisipasi peserta dan pentingnya kolaborasi lintas negara.
“Summer Course ini bukan hanya kegiatan akademik biasa, tetapi juga jembatan pemahaman lintas budaya dan sistem kesehatan. Kita ingin agar peserta bisa saling belajar, saling berbagi, dan bersama-sama membangun sistem kesehatan global yang lebih kuat dan adil,” ujarnya.

Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., selaku Wakil Rektor III Universitas Sumatera Utara, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen dalam membangun sistem kesehatan global yang lebih kolaboratif serta berorientasi internasional. Beliau meyakini bahwa sistem kesehatan yang tangguh harus dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan dan komitmen terhadap kesetaraan. Prof. Poppy juga berharap para peserta dapat mengeksplorasi sistem pelayanan kesehatan dari berbagai negara sekaligus membangun jejaring untuk memperkuat kolaborasi di masa depan. Hal ini sejalan dengan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antarnegara.
Course Director of International Summer Course, dr. Inke Nadia D. Lubis, PGDip PID., M.Ked(Ped)., Sp.A., Ph.D., menyampaikan bahwa International Summer Course ini dapat menjadi wadah refleksi, kolaborasi, dan penguatan solidaritas. Dalam forum ini, para profesional, akademisi, dan mahasiswa dari beragam latar belakang memiliki kesempatan untuk bertukar gagasan demi mendukung pengembangan sistem kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. Dr. Inke juga berharap kerja sama yang terjalin dapat terus berlanjut, bahkan diperluas hingga tingkat provinsi dan kabupaten. Menurut beliau, permasalahan kesehatan membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak, tidak terbatas pada bidang kedokteran. Oleh sebab itu, summer course ini melibatkan peserta dari berbagai disiplin ilmu sebagai upaya penguatan bersama.
Rangkaian kegiatan Summer Course 2025 ditutup dengan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Ambarita, Samosir. Kegiatan ini berfokus pada pemeriksaan tuberkulosis (TB) di Puskesmas Ambarita serta kunjungan langsung ke rumah warga oleh beberapa peserta yang dibagi menjadi beberapa tim dan didampingi tutor. Kegiatan ini mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya deteksi dini dan pencegahan penyakit tuberkulosis di masyarakat.
